APAKAH TAMANSISWA ITU
![]() |
Image by Sasin Tipchai from Pixabay |
Untuk menjelaskan tentang sesuatu benda yang tidak diketahui, Ki Hadjar Dewantara biasa menggunakan teori : Sifat, Bentuk, Isi dan Irama (SBII). Teori itu menggambarkan sifat suatu benda yang selalu tetap sepanjang masa, sedang bentuk, isi dan irama/geraknya selalu berubah-ubah mengikuti perkembangan alam dan jamannya.
Dicontohkan
oleh Ki Hadjar Dewantara tentang pohon kelapa. Sejak dahulu sampai sekarang
kelapa tetap bersifat sebagai tanaman yang berjenis palma. Tetapi bentuk, isi
dan irama tumbuhnya berbeda- beda. Dahulu bentuknya tinggi-tinggi sekarang
rendah-rendah. Dahulu isinya tebal-tebal, sekarang tipis-tipis. Dahulu
tumbuhnya lurus-lurus, tetapi sekarang banyak yang condong dan bengkok karena
sekitarnya banyak tanaman lain.
Begitu dengan Tamansiswa. Dahulu bentuknya rumah tinggal
sekaligus tempat pendidikan (Wiyata Griya), sebagai pondok asrama, dan
merupakan tempat berkumpulnya siswa, pamong dan orang tua siswa dalam bentuk
perkumpulan. Tetapi kini banyak Perguruan Tamansiswa yang berbentuk seperti
sekolah biasa. Tentang ruang kelas konsepsi pernah memiliki konsep “kelas tiga
dinding”. Artinya kelas itu satu sisinya tanpa dinding, dan sisi itu sekaligus
merupakan pintu masuk kelas. Hal ini diilhami oleh “ruang kelas alami” seperti
di Shanti Niketannya Rabindranath Tagore (India).
Tetapi
berhubung dengan berbagai kesulitan ekonomi yang merupakan penyebab
barang-barang di kelas terbuka tersebut tidak aman, maka Ki Hadjar Dewantara
terpaksa menyetujui kelas dengan empat dinding.
Namun dinding keempat tersebut tidak sepenuhnya tertutup, setengahnya harus
merupakan dinding kaca. Dengan demikian masih ada kesempatan suasana kelas yang
tetap berkomunikasi dengan lingkungan. Bentuk kelas sudah berubah, tetapi
fungsi kelas seperti ide semula masih tetap terwujud.
Dahulu Tamansiswa merupakan perguruan atau tempat belajar tentang falsafah
hidup, IPTEK, IMTAQ, tentang etika, estetika (seni) dan lain-lain. Kini
Tamansiswa lebih cenderung sebagai sekolah biasa yang kegiatannya diatur dengan
kurikulum dan manajemen sekolah hampir sama dengan sekolah-sekolah negeri.
Dalam gerak/irama peluangannya terhadap penjajah. Taman siswa lebih menonjolkan
nasionalisme dengan sikap tidak mau bekerja sama (non kooperatif) dan melawan
(konfrontatif). Sekarang Tamansiswa lebih banyak bekerjasama sebagai
mitra pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa Sikapnya kooperatif
(kerjasama), konsultatif (tukar menukar informasi) dan korektif (saling
mengingatkan).
Bentuk, isi, dan irama perjuangan Tamansiswa memang sudah banyak berubah jika
dibanding dengan waktu awal-awal beridirinya Dilihat dari sifat dan hakekatnya,
Tamansiswa sekarang masih tetap seperti Tamansiswa dahulu, yaitu merupakan
badan perjuangan Kebudayaan dan pembangunan masyarakat,
bersifat Keluarga Suci dengan Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak dan Asas
Tamansiswa 1922 sebagai Ibu, serta merupakan wakaf merdeka. Dengan rumus SBII,
jelas Ki Hadjar Dewantara selalu menganjurkan adanya perubahan, adanya
perkembangan sesuai dengan kemajuan masyarakatnya.
Rumus SBII inilah
yang merupakan jaminan adanya dinamika dalam Tamansiswa itu sendiri. Berpedoman
pada teori SBII diharapkan orang dapat memahami perubahan dalam tubuh
Tamansiswa yang mengandung nilai-nilai instrumental dan nilai fraksis.
Sedangkan nilai dasar yang melekat pada sifat dan hakekat harus tetap
dipertahankan.
0 Komentar